Loading Now

AJARAN NABI UNTUK BERPIKIR RASIONAL (Menjauhkan Umat dari Kepercayaan Pada Takhayyul dan Khurafat).

 

Oleh :KH. Cep Herry Syarifuddin, Pengasuh Pesantren Sabilurrahim Mekarsari Cileungsi Bogor, Wakil Katib PWNU Jawa Barat

Datangnya Islam antara lain bertujuan meluruskan aqidah atau keyakinan yang menyesatkan dan bertentangan dengan akal sehat seperti takhayul dan khurafat.Takhayul adalah kepercayaan kepada hal-hal mistik atau tidak masuk akal, yang seringkali tanpa disertai bukti atau dasar-dasar ilmiah. Misalnya percaya kepada kekuatan benda-benda tertentu (jimat) yang dianggap bisa mendatangkan manfaat dan menolak madharat (keburukan). Termasuk pula kepercayaan pada keberuntungan atau kesialam yang dikaitkan dengan warna, angka, posisi rumah, atau hari lahir dan sebagainya.

Sedangkan khurafat adalah cerita rekaan atau informasi yang dicampur dengan kebohongan. Contohnya cerita-cerita horor, mitos, terkait kisah orang-orang sakti dan tempat-tempat yang angker, cerita tentang kutukan atau mantra-mantra yang memiliki kekuatan ghaib.

Oleh karena itu, segala bentuk kepercayaan yang dibuat-buat, mengakui adanya kekuatan makhluk lain selain Allah, mengarang berbagai cerita atau mitos palsu yang menakutkan, itu semua sangat diberantas oleh Islam. Dampaknya dapat merusak akidah dan mengganggu keyakinan pada kebenaran ajaran-ajaran agama. Hal ini dapat disimak dalam petunjuk-petunjuk hadits berikut ini :

عن ابي هريرة رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: قال:﴿لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ﴾. (رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah saw bersabda : “Tidak ada penyakit menular, tidak ada dampak dari thiyarah (anggapan sial), tiada anggapan sial akibat (suara) burung hamah, dan tidak ada kesialan pada pada bulan Shafar.” (H.R.Al-Bukhary Muslim)

Rasulullah saw menolak anggapan orang-orang Arab atas adanya penyakit itu dikarenakan penularan dari seekor hewan kepada hewan lainnya. Di mana Nabi menegaskan bahwa penyakit itu yang menetapkan adalah Allah SWT, bukan semata-mata penularan saja. Sebab hewan yang pertama kali sakit itu tidak mendapat penularan apapun dari hewan lain. Sedangkan hewan kedua yang menderita penyakit yang sama itu tidak lain disebabkan oleh takdirnya harus tertular. Karena jika seekor hewan itu sehat dan belum ditakdirkan sakit, pasti hewan tersebut pun tidak akan tertular. Begitu juga halnya dengan penyakit pada manusia.

Kadangkala suara burung-burung tertentu juga ditafsirkan dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Seperti kalau ada suara burung kedasih atau gagak, maka diasumsikan akan ada orang yang meninggal. Padahal mau ada atau tidak ada yang meninggal, suara burung tersebut memang sudah begitu adanya. Dalam hal ini, Rasulullah s.a.w. melarang umatnya mempercayai suatu mitos atau takhayul yang berkenaan dengan suara burung.

Selain itu juga beliau menolak anggapan sial masyarakat Arab pada saat itu setiap kali datangnya bulan Shafar. Mereka berasumsi akan banyak terjadi kesialan pada bulan tersebut. Padahal semua kesialan itu bisa terjadi karena kehendak Allah dan akibat dari kesalahan manusia itu sendiri yang ceroboh dalam berucap, bersikap maupun bertindak. Bukan karena datangnya bulan Shafar.

Bahkan ada seorang penghulu yang pernah bilang bahwa kalau bulan Shafar itu sepi job karena tidak ada yang mau nikah pada bulan Shafar, disebabkan mitos bahwa bulan Shafar adalah bulan sial, sehingga dikhawatirkan rumah tangganya nanti akan kandas. Padahal kalau mereka tahu, ternyata Rasulullah s.aw. menikahkan Syaidina Ali bin Abi Thalib dan Siti Fatimah r.a pada bulan Shafar. Langkah Nabi ini tidak lain untuk menolak adanya anggapan kesialan pada bulan Shafar.

Kepercayaan itu semua jelas dapat menimbulkan efek negatif dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam hal ketauhidan jelas akan mengikis akidah orang-orang awam. Mereka seolah lebih percaya bahwa baik dan buruk itu ditentukan oleh suatu mitos yang bertentangan dengan akal sehat seperti kepercayaan pada suara burung, mitos penularan penyakit yang dibuat-buat, atau kesialan akibat datangnya suatu bulan.

(7 Agustus 2025)

Share this content:

Post Comment