Menghidupkan Dakwah Aswaja sebagai Gerakan Peradaban
Oleh: Khariri Makmun*
Dalam perjalanan panjang sejarah Islam di Nusantara, Nahdlatul Ulama (NU) tampil sebagai kekuatan utama yang menjaga dan menyebarluaskan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja). NU bukan hanya organisasi keagamaan, melainkan juga institusi sosial-budaya yang berhasil merawat nilai-nilai Islam sekaligus menjadikannya kontekstual dalam masyarakat Indonesia. NU memadukan tradisi keilmuan Islam klasik dengan kearifan lokal, menghasilkan dakwah yang tidak hanya efektif, tetapi juga penuh kelembutan, kedamaian, dan kedalaman.
Ajaran Aswaja bukanlah doktrin yang beku. Ia dinamis dan kontekstual. NU mampu memformulasikan pendekatan dakwah yang inklusif, merangkul pluralitas masyarakat Indonesia yang majemuk. Ini menjadikan dakwah Aswaja tak hanya berbicara soal ritual dan fiqih ibadah, tetapi juga menyentuh ranah sosial, pendidikan, kebudayaan, dan politik kebangsaan. Dakwah NU mencerminkan nilai Islam yang ramah, bukan marah; mengajak, bukan mengecam; membina, bukan menghina.
Dengan pendekatan yang menekankan toleransi, harmoni sosial, dan kearifan, NU turut menjaga stabilitas bangsa dan mengisi ruang-ruang publik dengan nilai-nilai Islam yang memanusiakan. Inilah esensi dakwah rahmatan lil ‘alamin yang menjadi ciri khas NU selama ini.
Sayangnya, di era kontemporer, ruh dakwah Aswaja mengalami tantangan serius. Banyak da’i kehilangan orientasi perjuangan. Dakwah berubah dari panggilan iman menjadi pekerjaan berorientasi materi, dari misi spiritual menjadi rutinitas birokratis, dari perjuangan sosial menjadi konten hiburan. Da’i menjadi selebritas, bukan mujahid dakwah.
Seorang da’i Aswaja sejati tidak digerakkan oleh struktur lembaga, melainkan oleh getaran iman. Ia menyambut panggilan dakwah bukan karena SK atau jadwal, tetapi karena kegelisahan batin yang tidak bisa menolerir kebodohan, kezaliman, dan keterpurukan umat. Keikhlasan adalah bensin utamanya, bukan honor atau popularitas.
Dakwah bukan profesi. Ia adalah amanat langit. Bukan ladang mencari materi, tetapi medan pengabdian. Seorang da’i yang benar menyadari bahwa aktivitasnya bukan transaksi antara dirinya dan umat, melainkan bentuk ekspresi iman kepada Allah dan cinta kepada manusia.
Realitas hari ini menunjukkan gejala kemunduran. Dakwah kehilangan semangat transformatifnya. Banyak da’i lebih suka tampil di layar ketimbang turun ke lapangan. Mereka lebih sibuk menghitung followers ketimbang mengukur dampak sosial dakwahnya. Dakwah berubah menjadi panggung, bukan perjuangan.
Individualisme menyusup ke tubuh sebagian da’i. Mereka menghindar dari problem umat, bersembunyi di balik dalil, dan menjadikan kesalehan sebagai pelindung dari tanggung jawab sosial. Mereka lupa bahwa Nabi Muhammad saw. adalah sosok yang menangis karena penderitaan umat, bukan karena kehilangan mimbar.
Saat ini, dakwah menyempit menjadi kewajiban individual yang dilakukan karena takut dosa, bukan karena cinta pada kebenaran. Da’i enggan terjun ke medan konflik sosial. Mereka menunggu undangan, bukan mendatangi. Menunggu aman, bukan menantang bahaya.
Kemunduran Peran Ulama
Krisis dakwah juga berarti krisis ulama. Ulama-ulama Aswaja dahulu adalah pemimpin masyarakat, pembela kaum kecil, penyambung lidah keadilan. Kini, sebagian dari mereka justru memilih zona nyaman sebagai mufti, cukup memberi fatwa tanpa membimbing. Tugas dakwah direduksi menjadi menjawab hukum, bukan membangun peradaban.
Dampaknya jelas: keterasingan sosial dan intelektual. Para da’i tidak lagi hadir dalam denyut kehidupan rakyat. Ceramah mereka kering dari konteks, hampa dari analisa, dan jauh dari solusi. Ketika diminta bicara soal nasib umat, yang muncul adalah retorika penuh nostalgia atau imajinasi utopis yang mengambang. Padahal umat butuh narasi yang membumi, solusi yang relevan, dan panduan yang visioner.
Maka perlu dilakukan reorientasi dakwah. Kita harus mengembalikan da’i sebagai agen perubahan sosial, bukan hanya penjaga tradisi. Da’i harus hadir sebagai inspirator umat, bukan penghibur di media sosial. Mereka perlu kembali menyatu dengan denyut nadi rakyat, membaca zaman dengan jernih, dan merespons tantangan dengan strategi.
Kepribadian da’i Aswaja harus ditopang oleh tiga fondasi:
1. Kekuatan iman yang melahirkan keikhlasan dan ketangguhan.
2. Keluasan wawasan, baik keilmuan klasik maupun realitas kontemporer.
3. Keberanian moral untuk menyampaikan kebenaran meskipun pahit.
Da’i harus keluar dari zona nyaman. Turun ke kampung-kampung, hadir di wilayah-wilayah miskin, menemui mereka yang tak terdengar suaranya. Dakwah harus bersanding dengan advokasi, penguatan ekonomi umat, pengorganisasian sosial, dan reformasi kebijakan publik. Membangun masyarakat madani butuh lebih dari sekadar ceramah.
Dakwah bukanlah pekerjaan ringan, tapi juga bukan pekerjaan yang sia-sia. Sejarah mencatat bagaimana para ulama Aswaja mampu membangkitkan peradaban dari reruntuhan kolonialisme. Mereka mengajar di pesantren, memimpin perlawanan, menulis kitab, memediasi konflik, dan merawat harmoni.
Kini, tugas kita adalah menghidupkan kembali jiwa itu. Jiwa yang melihat dakwah bukan sebagai beban, tetapi kehormatan. Jiwa yang tidak menunggu fasilitas, tetapi melangkah dengan keberanian. Jiwa yang tidak puas dengan tepuk tangan, tetapi merindukan perubahan sosial yang nyata.
Da’i masa depan bukan hanya butuh ilmu, tapi juga visi. Bukan hanya butuh mimbar, tapi juga langkah konkret. Bukan hanya butuh lisan, tapi juga keteladanan. Kita butuh da’i yang memahami fiqih ibadah sekaligus fiqih sosial dan fiqih perubahan. Da’i yang tidak hidup dalam masa lalu, tapi siap memimpin masa depan.
Dakwah Aswaja adalah Jalan Peradaban
Menghidupkan dakwah Aswaja berarti menjaga warisan para ulama dan sekaligus menyempurnakannya sesuai konteks zaman. Ini bukan pekerjaan sehari dua hari. Tapi ia adalah kerja peradaban. Ia menuntut kontinuitas, keberanian, dan visi besar.
NU telah meletakkan fondasi dakwah yang ramah dan membumi. Sekarang, tantangannya adalah membangun struktur dakwah yang adaptif, kritis, dan visioner. Menyatukan kekuatan pesantren, ormas, kampus, komunitas, dan media untuk menggerakkan gelombang dakwah yang tak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi juga memperjuangkannya.
Dakwah Aswaja adalah jalan panjang. Tapi ia adalah jalan terang. Saatnya kita berjalan di atasnya.[]
* Penulis, Pengasuh Pesantren Algebra,Ciawi, Bogor.
Share this content:



Post Comment